Sekar Nadia Lestari 10090218162
Saat ini, di
Indonesia maupun diseluruh dunia tengah dihadapi dengan adanya Coronavirus
Disease-2019 atau disebut COVID – 19 merupakan jenis virus baru manusia.
Penyakit ini sangat awam diketahui penyebabnya mulainya wabah ini berasal di
Wuhan, Tiongkok 2019. Namun menyebar diseluruh belahan dunia yang menjadi
sebuah wabah pandemi. Indonesia
dihebohkan dengan kasus virus corona yang semakin meningkat. Presiden Joko
Widodo memberikan pengumuman secara resmi kasus pertama Covid-19 di Indonesia
di Istana Negara tanggal 2 Maret 2020.
Pemerintah berupaya untuk mengoptimalkan kondisi
perekonomian Indonesia, pandemi Covid-19 memberikan dampak negatif dari segala
aspek kesehatan maupun perekonomian. Berdasarkan
pertumbuhan dari tahun ke tahun, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan 1 2020 terbesar pada sektor informasi dan
komunikasi sebesar 0,53 persen. Hal ini cukup bisa dimaklumi mengingat dengan
adanya anjuran dari pemerintah untuk “di rumah saja” maka banyak orang
menjalankan pekerjaan, hiburan dan pendidikan melalui teknologi informasi. Hal ini sejalan dengan
adanya pembatasan sosial berskala besar
(PSBB) untuk percepatan penanganan Covid-19 mulai ditetapkan di
berbagai daerah di Tanah Air. Berikut ini merupakan flow chart
variabel yang berkaitan terhadap perekonomian indonesia pada saat Covid-19 :
Flow Chart (Causal Loops)
Variabel :
A = Covid-19 D
= Pendapatan
B = PSBB E
= PHK
C = Pengangguran F
= Kebijakan Fiskal
G = Ekspor Impor J
= Konsumsi
H = Pajak K
= Pertumbuhan Ekonomi
I = Investasi L
= Pendapatan Nasional
Dalam Bentuk Ekspresi
Matriks
Ekspresi Linear
Indeks
Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2020 tercatat turun ke level 117,7 dari
posisi Januari 2020 sebesar 121,7 di tengah merebaknya virus Corona (Covid-19).
Kendati turun, hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2020
menunjukkan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap positif. Untuk
diketahui, IKK menggunakan angka 100 sebagai titik awal. Angka di atas 100
menandakan konsumen masih optimistis menghadapi kondisi perekonomian saat ini
dan masa mendatang. Sementara jika dilihat kedua indeks pembentuk IKK yakni Indeks Kondisi Ekonomi
(IKE) saat ini dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga melorot. Bahkan, IKE
juga turun ke level pesimistis. IKE mencatat indeks sebesar 62,8. Akibat
implementasi penanganan penyebaran wabah corona (Covid-19) berupa pembatasan
sosial berskala besar (PSBB) Penurunan indeks terdalam terjadi pada Indeks penghasilan
saat ini yang menjadi 63,5.
Penurunan ini
terutama disebabkan oleh PSBB yang berdampak pada penurunan penghasilan baik
yang bersifat rutin seperti gaji dan honor, maupun omzet usaha. Pelemahan
optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian masih berlanjut. Hal ini
terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2020 yang sebesar 77,8
atau lebih rendah dibandingkan 84,8 pada April 2020. Dengan indeks di
bawah 100 tersebut, berarti hasil survei konsumen Bank Indonesia (BI)
menunjukkan kalau keyakinan konsumen berada di dalam zona pesimistis.
Menurut laporan
survey bank sentral melemahnya
optimisme konsumen terutama disebabkan oleh menurunnya persepsi konsumen
terhadap kondisi ekonomi saat ini, dengan penurunan terdalam pada indeks
penghasilan saat ini dan ketersediaan lapangan kerja. Terdapat beberapa risiko negatif
yang dapat memicu rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertama, perlambatan
ekonomi Tiongkok akibat wabah Covid-19 dan perang dagang. Kedua, volatilitas
kelanjutan perang dagang yang akan dipengaruhi oleh hasil pemilihan Amerika
Serikat. Ketiga, ketegangan di Timur Tengah yang akan meningkatkan harga
minyak. Keempat, shortfall pendapatan negara pada tahun 2019 akan berdampak
pada realisasi fiskal tahun 2020.
Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia
Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia
Banyak perusahaan yang pada akhirnya memutuskan
hubungan kerja dengan para karyawannya dikarenakan pendemi virus corona yang
semakin meningkat kian kemari. Bahkan perusahaan hingga mengeluarkan keputusan pemutusan
hubungan kerja (PHK), dirumahkan, bekerja sebagian, dikurangi gajinya, dan
semacamnya sehingga menyebabkan pengangguran. Virus Corona sangat berdampak
tidak hanya dalam kesehatan tetapi pada perekonomian Indonesia. Dimana PHK
telah banyak dilakukan dan adanya kemungkinan karyawan tidak mendapatkan
tunjangan hari raya (THR) sehingga mereka tidak memiliki pendapatan, karena
virus corona telah mengganggu rantai produksi pada sektor industri yang
mengakibatkan bisnis tidak dapat berjalan dengan semestinya, sementara
kewajiban harus tetap dijalankan. Sehingga para pengusaha mengambil banyaknya
keputusan tersebut demi mempertahankan usaha mereka agar tetap stabil dan pemerintah
melakukan upaya agar dapat mencegah dampak buruk yang akan terjadi.
Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia
Menurut laporan survey bank sentral melemahnya optimisme konsumen terutama disebabkan oleh menurunnya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, dengan penurunan terdalam pada indeks penghasilan saat ini dan ketersediaan lapangan kerja. Terdapat beberapa risiko negatif yang dapat memicu rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertama, perlambatan ekonomi Tiongkok akibat wabah Covid-19 dan perang dagang. Kedua, volatilitas kelanjutan perang dagang yang akan dipengaruhi oleh hasil pemilihan Amerika Serikat. Ketiga, ketegangan di Timur Tengah yang akan meningkatkan harga minyak. Keempat, shortfall pendapatan negara pada tahun 2019 akan berdampak pada realisasi fiskal tahun 2020.
Sementara itu,
keyakinan konsumen untuk melakuan pembelian barang tahan lama (durable
goods) pada April 2020 juga mengalami penurunan. Indeks Pembelian Durable
Goods tercatat turun menjadi 83,7 pada April 2020. Penurunan pembelian durable
goods, menurut responden, terutama terjadi pada jenis barang
elektronik, furnitur, dan perabot rumah tangga. Penurunannya terjadi di selutuh
kategori tingkat pengeluaran dan kategori usia terutama pada responden
pengeluaran Rp 1 juta - Rp 2 juta dan responden berusia 41 tahun - 50 tahun.
Selama periode
Januari-Mei 2020, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 64,46 miliar atau turun
5,96 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019 yang mencapai 68,54
persen. Sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$ 60,97 miliar atau menurun 3,50
persen. Ekspor nonmigas ini menyumbang 94,58 persen dari total ekspor
Januari-Mei 2020. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto
mengungkapkan, penurunan ekspor ini terjadi hampir di seluruh sektor kecuali
pertanian. Untuk sektor migas turun cukup dalam hingga 34,93 persen, industri
pengolahan turun 0,08 persen, sedangkan sektor tambang dan lainnya turun 21,02
persen.
Perkembangan ekspor
dan impor mengalami penurunan dimana di tengah wabah pandemic Covid-19 ini
merupakan yang terendah pada 2016, sementara untuk impor terburuk ada pada
tahun 2009. Ekspor Januari
2020 tercatat 13,63 miliar dolar AS. Sempat naik pada Februari-Maret 2020
menjadi 14 miliar dolar AS, lalu turun lagi di April menjadi 12,16 miliar dolar
AS dan terus memburuk pada Mei 2020 menjadi 10,53 miliar dolar AS. Sementara
impor Januari 2020 tercatat 14,27 miliar dolar AS. Angka ini turun tipis pada
Maret 2020 menjadi 13,35 miliar dolar AS. Pada April 2020 angkanya terus menurun
menjadi 12,54 miliar dolar AS dan 8, 44. Hal ini terjadi karena kebijakan PSBB
atau lockdown yang membuat ekspor maupun impor mengalami penurunan yang
signifikan.
Adapun upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi permasalahan tersebut
perlu adanya kebiajakn fiskal. Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang
dilakukan oleh pemerintah dengan cara meningkatkan atau mengurangi pendapatan
dan belanja negara untuk mencapai tujuan yang diharapkan, seperti mengurangi
jumlah penganguran atau mencapai pertumbuhan ekonomi yang sudah ditargetkan. Salah satu kebijakan keuangan negara
dalam program pemulihan pandemi Covid-19 ini perlu dilakukannya Kebijakan Program PEN
(Program Pemulihan Ekonomi Nasional) yang dirumuskan oleh Menteri Keuangan
Republik Indonesia. Dengan Peraturan ini yang merupakan turunan peraturan
perundang-undangan mengenai penanganan COVID-19 ini secara umum mengatur
mengenai mekanisme intervensi pemerintah dalam pelaksanaan Program PEN, yaitu
melalui penyertaan modal negara, penempatan dana, investasi pemerintah, dan
penjaminan. Pilihan skema intervensi dimaksud akan disesuaikan dengan kebutuhan
yaitu target kelompok pelaku usaha yang akan diberikan stimulus dengan tetap
mempertimbangkan kemampuan keuangan negara.
Dalam
merumuskan kebijakan tersebut juga dapat melibatkan kementerian/lembaga terkait
lainnya. Program PEN ini bisa menjadikan program yang akan dilaksanakan
berjalan sesuai yang direncanakan yang dimana tujuannya untuk mempertahankan,
meningkatkan kemampuan ekonomi pelaku usaha di sector rill atau sektor
keuangan, dan termasuk UMKM. Disaat PSBB ini dapat menjadi solusi serta meminimalkan
hubungan perekonomian ataupun kerja oleh dunia usaha akibat pengaruh dari
Covid-19 yang diharapkan dapat memulihkan kondisi peronomian Indonesia.
Dalam hasil
yang telah dibuat didalam flow chart, dapat dilihat semua variabel yang
dijelaskan dalam bentuk matriks maupun sistem persamaan linear bahwa diperlukannya
upaya kebijakan fiskal dalam rangka untuk pemulihan ekonomi secara nasional,
hal ini dapat diuraikan hubungan keterkaitan antara investasi, pajak, ekspor-impor,
investasi, pajak, tingkat konsumsi, pendapatan nasional, pemberlakuannya PSBB atau
lockdown yang mengakibatkan pengangguran sehingga pendapatan menurun dan
terjadinya PHK maka perlu dilakukannya kebijakan atau langkah yang dilakukan
pemerintah agar penyembuhan perekonomian Indonesia bisa tetap stabil dan meningkat
secara signfikan setelah berakhir wadah pandemi Covid-19
Sumber Referensi :
Statistik Ekonomi
dan Keuangan Daerah (SEKDA). 2020. Survei Konsumen 2020
https://www.bi.go.id/id/publikasi/survei/konsumen/Default.aspx
Portal Statistik Perdagangan. 2020. Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2020
https://statistik.kemendag.go.id/export-import
Badan Pusat Statistik. 2020. Ekspor dan
Impor Mei 2020
https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/06/15/1679/ekspor-mei-2020-mencapai-us-10-53-miliar-dan-impor-mei-2020-sebesar-us-8-44-miliar.html
Akbar Alifiani.
2020. Kondisi Perekonomian Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19
https://www.suara.com/yoursay/2020/06/11/122201/kondisi-perekonomian-indonesia-di-tengah-pandemi-covid-19
Kontan.id.
2020. Survei Konsumen BI : Konsumen pesimistis dengan konidisi ekonomi saat
ini
https://nasional.kontan.co.id/news/survei-konsumen-bi-konsumen-pesimistis-dengan-kondisi-ekonomi-saat-ini?page=2
Setiawan N
Syeikha, Nunung Nurwati. 2020. Jurnal Dampak COVID-19 Terhadap Tenaga Kerja
di Indonesia
https://www.researchgate.net/publication/340925534_Dampak_COVID-19_terhadap_Tenaga_Kerja_di_Indonesia
Kementerian
PPN/Bapenas. 2019. Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia
https://www.bappenas.go.id/files/2715/8529/3891/Laporan_Perkembangan_Ekonomi_Indonesia_dan_Dunia_Triwulan_IV_2019.pdf.pdf
Kemenkeu RI. Media Briefing: Tanya BKF.Program Pemulihan Ekonomi
Nasional dan Isu Fiskal Lainnya. https://www.youtube.com/watch?v=WhOcZwKi8y4&t=476s








Tidak ada komentar:
Posting Komentar