Jumat, 19 Juni 2020

BAGAIMANA ANALISIS KONDISI ATAU DAMPAK PEREKONOMIAN INDONESIA DI TENGAH PANDEMI COVID-19 PADA TAHUN 2020?

Sekar Nadia Lestari 10090218162 


Saat ini, di Indonesia maupun diseluruh dunia tengah dihadapi dengan adanya Coronavirus Disease-2019 atau disebut COVID – 19 merupakan jenis virus baru manusia. Penyakit ini sangat awam diketahui penyebabnya mulainya wabah ini berasal di Wuhan, Tiongkok 2019. Namun menyebar diseluruh belahan dunia yang menjadi sebuah wabah pandemi. Indonesia dihebohkan dengan kasus virus corona yang semakin meningkat. Presiden Joko Widodo memberikan pengumuman secara resmi kasus pertama Covid-19 di Indonesia di Istana Negara tanggal 2 Maret 2020.

Pemerintah berupaya untuk mengoptimalkan kondisi perekonomian Indonesia, pandemi Covid-19 memberikan dampak negatif dari segala aspek kesehatan maupun perekonomian. Berdasarkan pertumbuhan dari tahun ke tahun, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan 1 2020 terbesar pada sektor informasi dan komunikasi sebesar 0,53 persen. Hal ini cukup bisa dimaklumi mengingat dengan adanya anjuran dari pemerintah untuk “di rumah saja” maka banyak orang menjalankan pekerjaan, hiburan dan pendidikan melalui teknologi informasi. Hal ini sejalan dengan adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk percepatan penanganan Covid-19 mulai ditetapkan di berbagai daerah di Tanah Air. Berikut ini merupakan flow chart variabel yang berkaitan terhadap perekonomian indonesia pada saat Covid-19 :


 Flow Chart (Causal Loops)



Variabel :

A = Covid-19                          D = Pendapatan

B = PSBB                               E = PHK

C = Pengangguran                  F = Kebijakan Fiskal

G = Ekspor Impor                   J = Konsumsi

H = Pajak                                K = Pertumbuhan Ekonomi

I = Investasi                            L = Pendapatan Nasional


Dalam Bentuk  Ekspresi Matriks


Ekspresi Linear


Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2020 tercatat turun ke level 117,7 dari posisi Januari 2020 sebesar 121,7 di tengah merebaknya virus Corona (Covid-19). Kendati turun, hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2020 menunjukkan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap positif. Untuk diketahui, IKK menggunakan angka 100 sebagai titik awal. Angka di atas 100 menandakan konsumen masih optimistis menghadapi kondisi perekonomian saat ini dan masa mendatang. Sementara jika dilihat kedua indeks pembentuk IKK yakni Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga melorot. Bahkan, IKE juga turun ke level pesimistis. IKE mencatat indeks sebesar 62,8. Akibat implementasi penanganan penyebaran wabah corona (Covid-19) berupa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Penurunan indeks terdalam terjadi pada Indeks penghasilan saat ini yang menjadi 63,5.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh PSBB yang berdampak pada penurunan penghasilan baik yang bersifat rutin seperti gaji dan honor, maupun omzet usaha. Pelemahan optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian masih berlanjut. Hal ini terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2020 yang sebesar 77,8 atau lebih rendah dibandingkan 84,8 pada April 2020. Dengan indeks di bawah 100 tersebut, berarti hasil survei konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan kalau keyakinan konsumen berada di dalam zona pesimistis.  

Menurut laporan survey bank sentral melemahnya optimisme konsumen terutama disebabkan oleh menurunnya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, dengan penurunan terdalam pada indeks penghasilan saat ini dan ketersediaan lapangan kerja. Terdapat beberapa risiko negatif yang dapat memicu rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertama, perlambatan ekonomi Tiongkok akibat wabah Covid-19 dan perang dagang. Kedua, volatilitas kelanjutan perang dagang yang akan dipengaruhi oleh hasil pemilihan Amerika Serikat. Ketiga, ketegangan di Timur Tengah yang akan meningkatkan harga minyak. Keempat, shortfall pendapatan negara pada tahun 2019 akan berdampak pada realisasi fiskal tahun 2020.

 


 Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia



Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia

Banyak perusahaan yang pada akhirnya memutuskan hubungan kerja dengan para karyawannya dikarenakan pendemi virus corona yang semakin meningkat kian kemari. Bahkan perusahaan hingga mengeluarkan keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK), dirumahkan, bekerja sebagian, dikurangi gajinya, dan semacamnya sehingga menyebabkan pengangguran. Virus Corona sangat berdampak tidak hanya dalam kesehatan tetapi pada perekonomian Indonesia. Dimana PHK telah banyak dilakukan dan adanya kemungkinan karyawan tidak mendapatkan tunjangan hari raya (THR) sehingga mereka tidak memiliki pendapatan, karena virus corona telah mengganggu rantai produksi pada sektor industri yang mengakibatkan bisnis tidak dapat berjalan dengan semestinya, sementara kewajiban harus tetap dijalankan. Sehingga para pengusaha mengambil banyaknya keputusan tersebut demi mempertahankan usaha mereka agar tetap stabil dan pemerintah melakukan upaya agar dapat mencegah dampak buruk yang akan terjadi.



Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia 

Menurut laporan survey bank sentral melemahnya optimisme konsumen terutama disebabkan oleh menurunnya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, dengan penurunan terdalam pada indeks penghasilan saat ini dan ketersediaan lapangan kerja. Terdapat beberapa risiko negatif yang dapat memicu rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertama, perlambatan ekonomi Tiongkok akibat wabah Covid-19 dan perang dagang. Kedua, volatilitas kelanjutan perang dagang yang akan dipengaruhi oleh hasil pemilihan Amerika Serikat. Ketiga, ketegangan di Timur Tengah yang akan meningkatkan harga minyak. Keempat, shortfall pendapatan negara pada tahun 2019 akan berdampak pada realisasi fiskal tahun 2020.



Sementara itu, keyakinan konsumen untuk melakuan pembelian barang tahan lama (durable goods) pada April 2020 juga mengalami penurunan. Indeks Pembelian Durable Goods tercatat turun menjadi 83,7 pada April 2020. Penurunan pembelian durable goods, menurut responden, terutama terjadi pada jenis barang elektronik, furnitur, dan perabot rumah tangga. Penurunannya terjadi di selutuh kategori tingkat pengeluaran dan kategori usia terutama pada responden pengeluaran Rp 1 juta - Rp 2 juta dan responden berusia 41 tahun - 50 tahun.

 




Selama periode Januari-Mei 2020, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 64,46 miliar atau turun 5,96 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019 yang mencapai 68,54 persen. Sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$ 60,97 miliar atau menurun 3,50 persen. Ekspor nonmigas ini menyumbang 94,58 persen dari total ekspor Januari-Mei 2020. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengungkapkan, penurunan ekspor ini terjadi hampir di seluruh sektor kecuali pertanian. Untuk sektor migas turun cukup dalam hingga 34,93 persen, industri pengolahan turun 0,08 persen, sedangkan sektor tambang dan lainnya turun 21,02 persen.

Perkembangan ekspor dan impor mengalami penurunan dimana di tengah wabah pandemic Covid-19 ini merupakan yang terendah pada 2016, sementara untuk impor terburuk ada pada tahun 2009. Ekspor Januari 2020 tercatat 13,63 miliar dolar AS. Sempat naik pada Februari-Maret 2020 menjadi 14 miliar dolar AS, lalu turun lagi di April menjadi 12,16 miliar dolar AS dan terus memburuk pada Mei 2020 menjadi 10,53 miliar dolar AS. Sementara impor Januari 2020 tercatat 14,27 miliar dolar AS. Angka ini turun tipis pada Maret 2020 menjadi 13,35 miliar dolar AS. Pada April 2020 angkanya terus menurun menjadi 12,54 miliar dolar AS dan 8, 44. Hal ini terjadi karena kebijakan PSBB atau lockdown yang membuat ekspor maupun impor mengalami penurunan yang signifikan.

Adapun upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya kebiajakn fiskal. Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dengan cara meningkatkan atau mengurangi pendapatan dan belanja negara untuk mencapai tujuan yang diharapkan, seperti mengurangi jumlah penganguran atau mencapai pertumbuhan ekonomi yang sudah ditargetkan. Salah satu kebijakan keuangan negara dalam program pemulihan pandemi Covid-19 ini  perlu dilakukannya Kebijakan Program PEN (Program Pemulihan Ekonomi Nasional) yang dirumuskan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia. Dengan Peraturan ini yang merupakan turunan peraturan perundang-undangan mengenai penanganan COVID-19 ini secara umum mengatur mengenai mekanisme intervensi pemerintah dalam pelaksanaan Program PEN, yaitu melalui penyertaan modal negara, penempatan dana, investasi pemerintah, dan penjaminan. Pilihan skema intervensi dimaksud akan disesuaikan dengan kebutuhan yaitu target kelompok pelaku usaha yang akan diberikan stimulus dengan tetap mempertimbangkan kemampuan keuangan negara.

 

Dalam merumuskan kebijakan tersebut juga dapat melibatkan kementerian/lembaga terkait lainnya. Program PEN ini bisa menjadikan program yang akan dilaksanakan berjalan sesuai yang direncanakan yang dimana tujuannya untuk mempertahankan, meningkatkan kemampuan ekonomi pelaku usaha di sector rill atau sektor keuangan, dan termasuk UMKM. Disaat PSBB ini dapat menjadi solusi serta meminimalkan hubungan perekonomian ataupun kerja oleh dunia usaha akibat pengaruh dari Covid-19 yang diharapkan dapat memulihkan kondisi peronomian Indonesia.

 

Dalam hasil yang telah dibuat didalam flow chart, dapat dilihat semua variabel yang dijelaskan dalam bentuk matriks maupun sistem persamaan linear bahwa diperlukannya upaya kebijakan fiskal dalam rangka untuk pemulihan ekonomi secara nasional, hal ini dapat diuraikan hubungan keterkaitan antara investasi, pajak, ekspor-impor, investasi, pajak, tingkat konsumsi, pendapatan nasional, pemberlakuannya PSBB atau lockdown yang mengakibatkan pengangguran sehingga pendapatan menurun dan terjadinya PHK maka perlu dilakukannya kebijakan atau langkah yang dilakukan pemerintah agar penyembuhan perekonomian Indonesia bisa tetap stabil dan meningkat secara signfikan setelah berakhir wadah pandemi Covid-19

 

 

Sumber Referensi :

 

Statistik Ekonomi dan Keuangan Daerah (SEKDA). 2020. Survei Konsumen 2020

https://www.bi.go.id/id/publikasi/survei/konsumen/Default.aspx


Portal Statistik Perdagangan. 2020. Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2020

https://statistik.kemendag.go.id/export-import

 

Badan Pusat Statistik. 2020. Ekspor dan Impor Mei 2020

https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/06/15/1679/ekspor-mei-2020-mencapai-us-10-53-miliar-dan-impor-mei-2020-sebesar-us-8-44-miliar.html

 

Akbar Alifiani. 2020. Kondisi Perekonomian Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

https://www.suara.com/yoursay/2020/06/11/122201/kondisi-perekonomian-indonesia-di-tengah-pandemi-covid-19

 

Kontan.id. 2020. Survei Konsumen BI : Konsumen pesimistis dengan konidisi ekonomi saat ini

https://nasional.kontan.co.id/news/survei-konsumen-bi-konsumen-pesimistis-dengan-kondisi-ekonomi-saat-ini?page=2

 

Setiawan N Syeikha, Nunung Nurwati. 2020. Jurnal Dampak COVID-19 Terhadap Tenaga Kerja di Indonesia

https://www.researchgate.net/publication/340925534_Dampak_COVID-19_terhadap_Tenaga_Kerja_di_Indonesia

 

Kementerian PPN/Bapenas. 2019. Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia

https://www.bappenas.go.id/files/2715/8529/3891/Laporan_Perkembangan_Ekonomi_Indonesia_dan_Dunia_Triwulan_IV_2019.pdf.pdf

Kemenkeu RI. Media Briefing: Tanya BKF.Program Pemulihan Ekonomi Nasional dan Isu Fiskal Lainnya. https://www.youtube.com/watch?v=WhOcZwKi8y4&t=476s


 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAGAIMANA ANALISIS KONDISI ATAU DAMPAK PEREKONOMIAN INDONESIA DI TENGAH PANDEMI COVID-19 PADA TAHUN 2020?

Sekar Nadia Lestari 10090218162  Saat ini, di Indonesia maupun diseluruh dunia tengah dihadapi dengan adanya Coronavirus Disease-2019 atau d...