Jumat, 19 Juni 2020

ANALISIS SISTEM EKONOMI INDONESIA PADA MASA COVID 19 SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

Adinda Sri Maryam 10090218165


Ø  Keterangan :

A = Covid-19

E = Investasi

I = Kebijakan Fiskal

M = LPE

B = Pengangguran

F = Harga

J= Lapangan Kerja

N = PSBB

C = Pendapatan

G = PHK

K = Lockdown

O = Ekspor

D = PDB

H = Konsumsi Masyarkat

L = Pajak

P=  Impor




Matriks

 

A

B

C

D

E

F

G

H

I

J

K

L

M

N

O

P

A

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

B

0

0

0

0

0

0

V

0

0

0

0

0

0

0

0

0

C

0

V

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

D

0

0

0

0

0

0

0

0

0

V

0

0

0

0

0

0

E

V

0

V

0

0

0

0

0

V

0

0

0

0

0

0

0

F

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

G

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

V

0

0

H

V

0

V

0

0

V

0

0

0

0

0

V

0

0

0

V

I

V

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

J

0

0

0

0

V

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

K

V

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

L

0

0

0

0

0

0

0

0

V

0

0

0

0

0

0

0

M

0

V

0

0

V

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

N

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

O

V

0

0

0

0

0

0

V

0

0

V

V

0

V

0

0

P

V

0

0

0

0

0

0

V

0

0

V

V

0

V

0

0




Sistem Persamaan

A= a0+a1(0)+a2(0)+a3(0)+a4(0)+a5(0)+a6(0)+a7(0)+a8(0)+a9(0)+a10(0)+a11(0)+a12(0)+a13(0)+a14(0)+a15(0)+a16(0)

B=  

b0+b1G+b2(0)+b3(0)+b4(0)+b5(0)+b6(0)+b7(0)+b8(0)+b9(0)+b10(0)+b11(0)+b12(0)+b13(0)+b14(0)+b15(0)+b16(0)

C=

c0+c1B+c2(0)+c3(0)+c4(0)+c5(0)+c6(0)+c7(0)+c8(0)+c9(0)+c10(0)+c11(0)+c12(0)+c13(0)+c14(0)+c15(0)+c16(0)

D=

d0+d1J+d2(0)+d3(0)+d4(0)+d5(0)+d6(0)+d7(0)+d8(0)+d9(0)+d10(0)+d11(0)+d12(0)+d13(0)+d14(0)+d15(0)+d16(0)

E=

e0+e1A+e2C+e3I+e4(0)+e5(0)+e6(0)+e7(0)+e8(0)+e9(0)+e10(0)+e11(0)+e12(0)+e13(0)+e14(0)+e15(0)+e16(0)

 

F=

f0+f1(0)+f2(0)+f3(0)+f4(0)+f5(0)+f6(0)+f7(0)+f8(0)+f9(0)+f10(0)+f11(0)+f12(0)+f13(0)+f14(0)+f15(0)+f16(0)

G=

g0+g1N+g2(0)+g3(0)+g4(0)+g5(0)+g6(0)+g7(0)+g8(0)+g9(0)+g10(0)+g11(0)+g12(0)+g13(0)+g14(0)+g15(0)+g16(0)

H=

h0+h1A+h2C+h3F+h4L+h5P+h6(0)+h7(0)+h8(0)+h9(0)+h10(0)+h11(0)+h12(0)+h13(0)+h14(0)+h15(0)+h16(0)

I=

i0+i1A+i2(0)+i3(0)+i4(0)+i5(0)+i6(0)+i7(0)+i8(0)+i9(0)+i10(0)+i11(0)+i12(0)+i13(0)+i14(0)+i15(0)+i16(0)

J=

j0+j1E+j2(0)+j3(0)+j4(0)+j5(0)+j6(0)+j7(0)+j8(0)+j9(0)+j10(0)+j11(0)+j12(0)+j13(0)+j14(0)+j15(0)+j16(0)

K=

k0+k1A+k2(0)+k3(0)+k4(0)+k5(0)+k6(0)+k7(0)+k8(0)+k9(0)+k10(0)+k11(0)+k12(0)+k13(0)+k14(0)+k15(0)+k16(0)

L=

l0+l1I+l2(0)+l3(0)+l4(0)+l5(0)+l6(0)+l7(0)+l8(0)+l9(0)+l10(0)+l11(0)+l12(0)+l13(0)+l14(0)+1l5(0)+l16(0)

M=

m0+m1B+m2E+m3(0)+m4(0)+m5(0)+m6(0)+m7(0)+m8(0)+m9(0)+m10(0)+m11(0)+m12(0)+m13(0)+m14(0)+m15(0)+m16(0)

N=

n0+n1(0)+n2(0)+n3(0)+n4(0)+n5(0)+n6(0)+n7(0)+n8(0)+n9(0)+n10(0)+n11(0)+n12(0)+n13(0)+n14(0)+n15(0)+n16(0)

O=

a0+a1(0)+a2(0)+a3(0)+a4(0)+a5(0)+a6(0)+a7(0)+a8(0)+a9(0)+a10(0)+a11(0)+a12(0)+a13(0)+a14(0)+a15(0)+a16(0)

 

Ø  Keterangan :

 

Variabel Endogeneous : B,C,D,E,G,H,I,J,K,L,M,O,P.

 

Variabel Exogeneous : A, F, N.

 

Eksplanatory Endogeneous :B,C,D,E,G,H,I,J,K,L,M,O,P.

 

Eksplanatory Exogeneous : A,F,N.





ANALISIS

Pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang kesehatan manusia tetapi juga berimbas pada perekonomian negara. Berbagai bidang usaha seperti hotel, pertokoan, pariwisata terpaksa berhenti beroperasi dan ditutup oleh pemiliknya sehingga menimbulkan permasalahan baru yaitu gelombang PHK yang bermunculan dimana-mana.

 

"Center of Reform on Economics (CORE) memperkirakan jumlah pengangguran terbuka pada kuartal II 2020 akan bertambah 4,25 juta orang" dalam katadata.co.id.

Semakin tinggi jumlah pengangguran  menandakan semakin banyak warga negara yang tidak berpenghasilan dan hal tersebut akan berdampak pada aktivitas perekonomian. Tidak adanya penghasilan tentu akan menurunkan tingkat konsumsi atau daya beli masyarakat, aktivitas konsumsi masyarakat akan mendapat imbas apabila tidak segera diantisipasi secara baik oleh pemerintah.

 

"Konsumsi rumah tangga tahun ini diperkirakan masih menjadi pendorong utama dalam menggerakan  roda perekonomian, akan tetapi laju pertumbuhannya bakal melambat. Demikian pula daya beli masyarakat cenderung menurun mengingat hampir semua sektor ekonomi akan terkena dampak cukup signifikan dari Covid-19.

 

Sri Mulyani juga mengatakan PDB Indonesia akan merosot menjadi 2,3 % hingga -0,4% berada jauh dibawah asumsi APBN 2020 yang mencapai 5,3%.

 

“Pemerintah  memperkirakan  pertumbuhan ekonomi akan turun ke 2,3% bahkan dalam skenario yang lebih buruk bisa mencapai -0,4%. Sektor rumah tangga akan mengalami penurunan cukup besar dari sisi konsumsi karena mereka tidak lagi melakukan aktivitas sehingga konsumsi akan menurun cukup tajam dari 3,22% hingga 1,60%.

 

Memasuki bulan  bulan  april, semua diupayakan bisa mulai membaik. Apalagi, Ramadhan segera masuk dan lebaran juga yang membuat kebutuhan masyarakat meningkat sementara pendapatan menurun .

 

Pertumbuhan ekonomi kita berdasarkan assessment yang bisa dlihat, BI, OJK, dan memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan turun ke 2,3 persen, bahkan dalam skenarionya yang lebih buruk, bisa mencapai negatif 0,4 persen.

Kenapa hal ini bisa terjadi? karena, kondisi sekarang ini akan berimbas pada menurunnya konsumsi rumah tangga yang diperkirakan 3,2 persen hingga 1,2 persen. Lebih dari itu, investasi pun akan merosot tajam. Sebelumnya, pemerintah cukup optimistis bahwa investasi akan tumbuh enam  persen. Namun, dengan adanya COVID-19, diprediksi investasi akan merosot ke level satu persen atau terburuk bisa mencapai minus empat persen.

Ekspor pun diperkirakan terkoreksi lebih dalam, mengingat sudah satu tahun belakangan ini pertumbuhannya negatif. Begitu juga dengan impor yang juga akan tetap negatif pertumbuhannya.

  • Ø  Analis Konsumsi Masyarakat

Dapat disimpulkan dari tabel diatas, bahwa IKE dan IEK dari bulan Januari 2020 paling tinggi dari bulan yang lainnya atau pada bulan Februari-Mei 2020 mengalami penurunan. Hal tersebut terjadi karena menurunnya keyakinan konsumen untuk melakukan pembelian barang tahan lama, menurut persepsi konsumen penurunan pembelian barang tahan lama terutama terjadi pada jenis barang elektronik (televisi, komputer, handphone, dll) dan menurunnya keyakinan konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini terpantau melemah. Menurunnya hal tersebut disebabkan oleh penurunan seluruh komponen penyusunnya terutama ekspektasi konsumen terkadap ketersediaan tenaga kerja dan penghasilan pada 6 bulan mendatang serta terjadi pada prakiraan ekspansi kegiatan usaha pada 6 bulan yang akan datang akan lebih terbatas dari bulan sebelumnya.

Pada April 2020, optimisme konsumen terhadap penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan sebelumnya melemah sejalan dengan kebijakan pembatasan sosial selama darurat bencana akibat covid-19 yang berdampak pada penurunan penghasilan baik yang bersifat rutin seperti gaji dan honor maupun omset usaha. Penurunan optimism konsumen terhadap penghasilan saat ini terjadi seiring dengan keyakinan konsumen terhadap persediaan lapangan kerja saat ini yang semakin menurun, hal tersebut disebabkan banyaknya pengangguran tenaga kerja yang dilakukan oleh perusahaan akibat pandemi covid-19. Tercatat menurut data Kementerian Tenaga Kerja per 20 April 2020 jumlah tenaga kerja yang dirumahkan dan terkena PHK telah mencapai 2,08 juta pekerja.

 

Pada Mei 2020, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini kembali melemah dari bulan sebelumnya dan masih berada pada zona pesimis, di tengah kondisi bencana nasional akibat pandemi covid-19. Menurunnya indeks kondisi ekonomi saat ini disebabkan oleh ketersediaan lapangan kerja yang semakin menurun. Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) yang telah direkonsiliasi bersama BPJS Ketenagakerjaan, per 27 Mei 2020 jumlah tenaga kerja yang berdampak karena pandemic covid-19, baik dirumahkan maupun terkena PHK sebanyak 1,79 juta pekerja. Kemudian optimisme  konsumen  terhadap penghasilan saat ini melemah dibandingkan 6 bulan sebelumnya disebakan penurunan penghasilan rutin (gaji/honor) maupun omset usaha selama di berlakukannya PSBB pada Mei 2020. Kemudian keyakinan konsumen untuk melakukan pembelian barang tahan lama pada Mei 2020 juga mengalami penurunan, terutama pada jenis barang elektronik, furnitur dan perabot rumah tangga. Selanjutnya untuk indeks ekspektasi konsumen pada Mei 2020 mengalami penurunan disebabkan oleh menurunnya indeks ekspektasi kegiatan usaha dan indeks penghasilan pada 6 bulan mendatang serta ekspektasi responden terhadap tersedianya lapangan kerja pada 6 bulan mendatang terpantau menguat.

 

  • Ø  Analisis Investasi

BKPM menyatakan, dampak investasi yang ditimbulkan dari penyebaran wabah COVID-19 baru dapat diketahui pada akhir Maret atau awal April. Dampak tersebut hampir dipastikan ada, mengingat saat ini RRT adalah negara dengan realisasi investasi asing terbesar kedua di Indonesia pada tahun lalu. Tahun lalu, nilai investasi RRT di Tanah Air tidak kurang dari USD 4,7 miliar. Nominal itu setara dengan hampir 17% total nilai investasi keseluruhan asing di Indonesia.

  • Prediksi Dampak Investasi Mencapai Ratusan Triliun

Dari total nilai investasi yang telah disebutkan pada poin sebelumnya, potensi dampak investasi di Indonesia bisa mencapai triliunan rupiah. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memprediksi, ada potensi kehilangan nilai investasi sebesar Rp127 triliun akibat merebaknya COVID-19. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat salah satu faktor penyebabnya adalah prospek kegiatan dan pertumbuhan ekonomi yang semakin hari kian tertekan.                 

Hal ini dikuatkan oleh pemerintah yang menyatakan bahwa setiap ada penurunan nilai ekonomi RRT 1% maka akan memberikan dampak penurunan pada ekonomi Indonesia sebesar 0,3%. Melihat situasi yang terus berkembang, bukan tidak mungkin ekonomi RRT bisa merosot sampai pada level 5% pada 2020.

 

Siapa yang Paling Terdampak?

Menteri Ketenagakerjaan, memaparkan bahwa salah satu target industri yang paling merasakan dampak dari COVID-19 adalah sektor pariwisata. Hal ini terutama disebabkan oleh kebijakan Indonesia dan negara lain yang menutup akses bandara dari penerbangan internasional yang membuat jumlah kunjungan turis ke Indonesia anjlok. Badan Pusat Statistik mencatat, terdapat penurunan sebesar 7,62% pada kunjungan wisatawan mancanegara di bulan Januari 2020, periode saat COVID-19 mulai merebak di dunia. Akibatnya, menurut Kementerian Ketenagakerjaan, tidak sedikit pemilik hotel di Bali dan Batam yang terpaksa merumahkan karyawan mereka.

Organisasi Buruh Internasional (ILO) juga memprediksi, pandemi Corona akan membuat lebih dari 20 juta orang di dunia kehilangan pekerjaannya. Hal ini setara dengan kondisi pada krisis keuangan global yang terjadi pada rentang 2008-2009, yang mana jumlah pengangguran level dunia mencapai 22 juta orang.

 

Dari penjabaran di atas, sangat penting bagi pelaku investasi atau investor untuk tetap menjaga, mengikuti, dan menganalisis perkembangan COVID-19. Dengan pengamatan dan perhitungan yang tepat, total kerugian dan dampak buruk dapat diminimalisir sekecil mungkin.

 

  • Ø  Analisis Ekspor-Impor

Perkembangan ekspor-impor Indonesia terus mengalami pemburukan di tengah pandemi Corona atau COVID-19. Kepala BPS Suhariyanto menyatakan capaian ekspor pada Mei 2020 ini adalah yang terendah sejak 2016, sementara posisi impor terburuk sejak tahun 2009. Ekspor pada Mei 2020 tercatat melanjutkan penurunannya dengan kisaran 13,40% month to month (mtom) dan 28,95% year on year (yoy). Sementara impor turun lagi lebih dalam dengan kisaran 32,65% mtom dan 42,20% yoy. Ekspor Januari 2020 tercatat 13,63 miliar dolar AS. Sempat naik pada Februari-Maret 2020 menjadi 14 miliar dolar AS, lalu turun lagi di April menjadi 12,16 miliar dolar AS dan terus memburuk pada Mei 2020 menjadi 10,53 miliar dolar AS. Sementara impor Januari 2020 tercatat 14,27 miliar dolar AS. Angka ini turun tipis pada Maret 2020 menjadi 13,35 miliar dolar AS. Pada April 2020 angkanya terus menurun menjadi 12,54 miliar dolar AS dan 8,44 miliar dolar AS pada Mei 2020. Gara-gara capaian ini, surplus 2,09 miliar dolar AS pada Mei 2020 bukan kabar menggembirakan.

Bahkan Suhariyanto mengingatkan agar berhati-hati menyikapinya lantaran menjadi pertanda buruk bagi pertumbuhan ekonomi kuartal II (Q2) dan kinerja industri Indonesia. Indonesia Ekspor Sayuran tapi Masih Impor Bawang Putih dan Kentang Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap menjelaskan tren ini menunjukkan ekspor-impor melambat. Meski sebagian negara sudah membuka aktivitasnya, tapi permintaan tak terkerek. Deretan komoditas ekspor terbesar seperti Crude Palm Oil (CPO) dan batu bara kompak mengalami penurunan. BPS mencatat Mei 2020 ekspor golongan minyak nabati dan bahan bakar mineral masing-masing turun 199,7 miliar dolar AS dan 225 miliar dolar AS mtom. Faktor pertama, Manap menilai ada potensi industri di luar negeri masih memiliki stok usai aktivitas berhenti. Faktor kedua, aktivitas ekonomi di negara tujuan masih rendah baik produksi maupun konsumsi. National Bureau of Statistics of China menyatakan Purchasing Managers Index (PMI) mereka Mei 2020 turun lagi menjadi 50,6 padahal sempat membaik di 52 pada Maret 2020 yang berarti ekspansi industri melambat. Indikator harga produsen dan konsumen di Cina juga terus turun yang menjadi sinyal adanya peningkatan jumlah barang, tapi banyak tak terserap sehingga menjadi deflasi. Efek tersebut pun terasa sampai Indonesia. Menurut BPS, Cina menguasai 17,04% pangsa ekspor dan 28,13% impor non-migas Indonesia “Kalau turun, kegiatan konsumen itu masih tidak bergerak signifikan sekalipun PMI meningkat”Dari sisi impor pun keadaannya juga tidak baik-baik amat.

BPS: Neraca Dagang RI Mei 2020 Surplus 2,09 Miliar Dolar AS Edhy Prabowo Resmi Izinkan Ekspor Benih Lobster & Penangkapannya Ia mencontohkan data PMI Indonesia pada Mei 2020 masih bertengger di kisaran 28 sekalipun membaik dari April 2020 di angka 27,5 yang di bawah standar ekspansi 50 poin. Indikator inflasi Mei 2020 bahkan terus mengalami penurunan pertanda masih lemahnya daya beli. Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendah Manilet menambahkan tren perlambatan ekspor-impor ini merupakan konsekuensi yang harus dihadapi semua negara karena perlambatan ekonomi global. Melansir Reuters, ekspor-impor Jerman pada April 2020 menjadi yang terburuk sejak tahun 1990. Ekspor Jerman turun 24% yoy lantaran mitra dagangnya terdampak Corona. “Masalah global COVID-19 seperti sekarang menjadikan penurunan ekspor merupakan keniscayaan. Melihat tren ini, Yusuf yakin tren penurunan ekspor-impor akan terus berlanjut sampai rilis data Juni 2020 nanti. Yusuf bilang kinerja perdagangan global masih akan melambat hingga akhir tahun sehingga perbaikan ekspor-impor sulit diharapkan.

Belum lagi perekonomian Cina sudah menunjukkan tren menurun lagi sekalipun sudah membaik sejak lockdown. Kalau pun mau berharap pada industri dalam negeri, kata Yusuf, itu pun tidak mudah. Meski pemerintah melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kapasitas industri paling banyak berada di kisaran 30% dan permintaan industri domestik juga belum akan pulih dalam waktu dekat.

 

  • Ø  Kebijakan  

Analisis Kebijakan Fiskal mengacu pada Progran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Kebijakan Fiskal merujuk pada kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa pajak) pemerintah. Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yaitu program yang diluncurkan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 tahun 2020 tentang Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). PP tersebut diklaim untuk melindungi perekonomian agar tetap bertahan di tengah wabah virus corona (Covid-19). Oleh karena itu, usaha terdampak akan menjadi fokus dalam pelaksanaan PEN.

Dampak covid-19 kepada perekonomian, yaitu memberikan efek pada aspek kesehatan, sosial, ekonomi, dan keuangan. Dampak covid-19 pada aspek kesehatan yaitu menciptakan krisis kesehatan, karena penyebaran covid-19 yang mudah, cepat, dan luas sehingga menciptakan krisis kesehatan. Terciptanya krisis kesehatan ini dengan belum ditemukannya aksin, obat serta keterbatasan alat dan tenaga medis. Selanjutnya dampak covid-19 pada asepek sosial, yaitu berhentinya aktivitas ekonomi yang menyerap tenaga kerja di berbagai sektor, tak terkecuali sektor-sektor informal. Kemudian dampak covid-19 pada aspek ekonomi, sudah jelas bahwa kinerja ekonomi menurun tajam, seperti konsumsi terganggu, investasi terhambat, ekspor-impor terkontraksi. Sebelumnya pertumbuhan ekonomi Indonesi 2020, sebelum adanya wabah covid-19 yakni sebesar 5,3% dan sesudah adanya wabah covid-19 pertumbuhan ekonomi turun menjadi 2,3%, ketika pertumbuhan ekonomi turun berdampak juga pada semakin tinggina PHK dan menyebabkan semakin banyak pula penganguran serta masyarakat miskinpun semakin bayak. Kemudian dampak covid-19 pada aspek keuangan, yaitu berdampak pada kinerja sektor riil, provitabilitas dan solvabilitas perusahaan mengalami tekanan.

Pemerintah juga akan mengambil kebijakan yang terukur disesuaikan dengan data penanganan masalah covid-19. Pemerintah mempertimbangkan antara kebutuhan tetap menjaga kesehatan masyarakat, namun di sisi lain bisa memberi ruang untuk interaksi sosial ekonomi untuk new normal. pemulihan ekonomi dan sosial yang bisa dilakukan mulai awal Juli hingga Agustus. Meski baru sebatas kajian, pemerintah berencana mulai membuka kegiatan bagi masyarakat dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan covid-19.

Terjadinya Inflasi ialah proses naiknya harga secara umum  dan terus menerus sesuai mekanisme pasar.Pencegahan inflasi merupakan salah satu tujuan utama dari kebijaksanaan ekonomi makro pemerintahan dan juga bank sentral dinegara manapun. Oleh karena itu, inflasi dianggap sebagai suatu yang tidak diinginkan serta  memberi pengaruh yang tidak baik terhadap distribusi pendapatan (masyarakat berpendapat rendah akan menderita), spekulasi, kegiatan pinjam meminjam, dan juga persaingan di perdagangan internasional.

Salah satu prinsipnya Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang mengatur tentang penerimaan dan juga pengeluaran negara. Disamping itu, pengeluaran dibagi kedalam dua kelompok besar yaitu pengeluaran rutin seperti membayar gaji pegawai, belanja barang dan pengeluaran yang bersifat pembangunan.

 

 

 









BAGAIMANA ANALISIS KONDISI ATAU DAMPAK PEREKONOMIAN INDONESIA DI TENGAH PANDEMI COVID-19 PADA TAHUN 2020?

Sekar Nadia Lestari 10090218162  Saat ini, di Indonesia maupun diseluruh dunia tengah dihadapi dengan adanya Coronavirus Disease-2019 atau d...