Matriks
dan Persamaan Linear
Bagaimana Kondisi Perekonomian
Ditengah Pandemi COVID 19?
Menurut
WHO, Covid 19 merupakan suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit
pada hewan atau manusia. Virus ini dapat menyebar melalui droplets dan juga
bisa melalui benda. Karena penyebaran yang begitu mudahnya, Covid 19
menimbulkan dampak yang sangat besar di beberapa sektor, terutama pada sektor
perekonomian. Bukan hanya Indonesia saja
yang terdampak dari adanya Covid 19 ini tapi seluruh dunia ikut terdampak
sehingga Covid 19 ini menjadi pandemic. Oleh karena itu, pemerintah
mengeluarkan kebijakan seperti social distancing untuk memperlambat
penyebaran virus ini. Sehingga dengan adanya social distancing ini
beberapa aktivitas ekonomi dapat terganggu dan terhambat aktivitasnya. Konsumsi
terganggu, investasi terhambat, ekspor-impor terkontraksi sehingga dapat menyebabkan
pertumbuhan ekonomi melambat dan menurun
tajam.
Menurut data yang diambil dari survei konsumen Bank
Indonesia, dapat dilihat bahwa pelemahan optimisme konsumen terhadap kondisi
ekonomi masih berlanjut. Pada Mei 2020 Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) melemah
kembali dari 84,8 pada bulan sebelumnya menjadi 77,8 sehingga indeks ini masi
berada di zona pesimis (dibawah 100). Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)
ini disebabkan oleh indeks pembentuknya yaitu Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) bulan
Mei 2020 yang turun menjadi 50,7 dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) pada bulan Mei 2020 sedikit
melemah menjadi 104,9 walaupun masih berada di zona optimis.
Penurunan Indeks Kondisi Ekonomi saat ini juga
dipengaruhi oleh ketersediaan dari lapangan pekerjaan. Optimisme konsumen
terhadap lapangan pekerjaan menjadi menurun, mengingat banyaknya tenaga kerja
yang di PHK dan dirumahkan karena dampak dari pandemic covid 19 ini. Selain
itu, gelombang PHK serta perberlakuan pembatasan sosial berskala besar ini
menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan masyarakat.
Pada saat pandemic dan diberlakukannya social distancing, konsumen cenderung mengubah pola perilakunya seperti melakukan pembelian berbagai kebutuhan dengan cara online. Ini dilakukan karena kepedulian terhadap kesehatan semakin tinggi. Konsumen juga melakukan penghematan terhadap pengeleuaran dalam tekanan finansial yang sedang dihadapi. Caranya dengan fokus akan kebutuhan rumah, mengurangi belanja yang tidak perlu, serta beralih tempat belanja yang menawarkan penawaran terbaik.
Investasi
Barang
tahan lama merupakan kategori barang yang tidak cepat habis. Termasuk didalamnya
seperti barang elektronik, mobil, dll yang dapat digunakan sebagai alat untuk
kegiatan produktif.
Penurunan
keyakinan terhadap pendapatan dan ketersediaan lapangan pekerjaan juga
mempengaruhi keyakinan konsumen untuk membeli barang tahan lama menjadi turun,
dari data yang diambil dari Survei Konsumen Bank Indonesia pada Mei 2020 indeks
pembelian barang tahan lama menjadi 73,3 dari bulan sebelumnya 83,7.
Ekspor
dan Impor
Segala aktivitas terhambat dan perekonomian menjadi
terganggu mengakibatkan adanya peluang pertumbuhan ekonomi ini menjadi negatif
dan terjadi krisis, ini menjadi dasar pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan
baru. Dalam mengambil kebijakan pemerintah perlu gerak cepat, tetapi dengan
tetap mengedepankan kehati-hatian serta harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan
oleh masyarakat saat ini.
Berdasarkan
live Program PEN dan Isu Fiskal yang dilakukan oleh kementrian keuangan, dalam
rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional pemerintah mengeluarkan kebijakan
dengan perubahan perpres 54 tahun 2020. Dari sisi demand perlu fokus dalam
bentuk perlindungan sosial, karena jika perekonomian sedang dilanda krisis maka
yang pertama kali dibantu adalah kelompok yang sangat rentan. Dari sisi supply
dapat dibantu dalam bentuk bunga, talangan investasi untuk modal kerja, dan
pajak. Sisi supply juga perlu dibantu karena mereka tetap perlu survive agar
tidak terjadi pengangguran yang terlalu berat.
Revisi terhadap perpres 54 tahun 2020 ini juga dilakukan agar jumlah
hutang tidak bertambah banyak dan tidak terjadi defisit anggaran terhadap PDB.
Perumusan
Kebijakan
Awal dari semua permasalahan ini berasal dari virus covid 19, oleh karena itu sektor kesehatan perlu diprioritaskan. Jika kesehatan tidak ditangani dengan baik maka akan susah untuk menyelesaikan masalah yang lainnya sehingga menemukan vaksin menjadi hal yang sangat krusial. Selagi proses untuk menemukan vaksin alangkah baiknya kita mengikuti aturan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah seperti melakukan social distancing serta menerapkan pola hidup sehat untuk memutus mata rantai virus covid 19 ini. Seperti menghindari perkumpulan dan pertemuaan massal, menjaga jarak serta melakukan work from home.
Dalam sektor perekonomiannya sendiri perlu dilakukan
beberapa kebijakan seperti pemerintah merelokasi anggaran untuk membantu
kelompok-kelompok yang rentan dengan bantuan berupa subsidi, keringanan bunga
juga pajak agar tetap bisa survive ditengah pandemi ini. Menarik investor agar
roda perekonomian tetap berjalan dan tidak menimbulkan pengangguran serta
kemiskinan yang amat dalam.
Tidak ada yang tidak susah saat terjadi pandemic covid
19 ini, karena semuanya dilanda ketidakpastian dan kesusahan. Pemerintah harus
menjadi katalis agar semua komponen masyarakat bisa bergerak bersama untuk
bertahan dan recover. Selain itu, semua komponen masyarakat juga perlu
menyadari bahwa masalah ini merupakan masalah bersama yang tidak bisa
ditanggung oleh satu atau dua pihak saja.
Sumber
Referensi
Bank Sentral
Republik Indonesia. 2020. Survei Konsumen 2020
https://www.bi.go.id/id/publikasi/survei
Bisnis.com. 2020. Begini
Pergeseran Perilaku Konsumen Baru Selama Pandemi COVID 19
Live Streaming
Kemenkeu. 2020. Program PEN dan Isu Fiskal Lainnya
Tirto.id. 2020. Babak
Belur Ekspor dan Impor di Tengah Pandemi COVID 19
https://tirto.id/babak-belur-ekspor-impor-indonesia-di-tengah-pandemi-covid-19-fHME






Tidak ada komentar:
Posting Komentar