Jumat, 19 Juni 2020

Analisis Sistem Ekonomi Indonesia Pada Masa COVID 19


Fatila Nurulita Aulia 10090218172



Flow Chart (Causal Loops)

Matriks dan Persamaan Linear


Bagaimana Kondisi Perekonomian Ditengah Pandemi COVID 19?

Menurut WHO, Covid 19 merupakan suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Virus ini dapat menyebar melalui droplets dan juga bisa melalui benda. Karena penyebaran yang begitu mudahnya, Covid 19 menimbulkan dampak yang sangat besar di beberapa sektor, terutama pada sektor perekonomian.  Bukan hanya Indonesia saja yang terdampak dari adanya Covid 19 ini tapi seluruh dunia ikut terdampak sehingga Covid 19 ini menjadi pandemic. Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan seperti social distancing untuk memperlambat penyebaran virus ini. Sehingga dengan adanya social distancing ini beberapa aktivitas ekonomi dapat terganggu dan terhambat aktivitasnya. Konsumsi terganggu, investasi terhambat, ekspor-impor terkontraksi sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi  melambat dan menurun tajam. 


Konsumsi Masyarakat

Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia

Menurut data yang diambil dari survei konsumen Bank Indonesia, dapat dilihat bahwa pelemahan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi masih berlanjut. Pada Mei 2020 Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) melemah kembali dari 84,8 pada bulan sebelumnya menjadi 77,8 sehingga indeks ini masi berada di zona pesimis (dibawah 100). Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) ini disebabkan oleh indeks pembentuknya yaitu Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) bulan Mei 2020 yang turun menjadi 50,7 dan Indeks Ekspektasi Kondisi  Ekonomi (IEK) pada bulan Mei 2020 sedikit melemah menjadi 104,9 walaupun masih berada di zona optimis.

Penurunan Indeks Kondisi Ekonomi saat ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan dari lapangan pekerjaan. Optimisme konsumen terhadap lapangan pekerjaan menjadi menurun, mengingat banyaknya tenaga kerja yang di PHK dan dirumahkan karena dampak dari pandemic covid 19 ini. Selain itu, gelombang PHK serta perberlakuan pembatasan sosial berskala besar ini menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan masyarakat.

Pada saat pandemic dan diberlakukannya social distancing, konsumen cenderung mengubah pola perilakunya seperti melakukan pembelian berbagai kebutuhan dengan cara online. Ini dilakukan karena kepedulian terhadap kesehatan semakin tinggi. Konsumen juga melakukan penghematan terhadap pengeleuaran dalam tekanan finansial yang sedang dihadapi. Caranya dengan fokus akan kebutuhan rumah, mengurangi belanja yang tidak perlu, serta beralih tempat belanja yang menawarkan penawaran terbaik. 

Investasi 

Barang tahan lama merupakan kategori barang yang tidak cepat habis. Termasuk didalamnya seperti barang elektronik, mobil, dll yang dapat digunakan sebagai alat untuk kegiatan produktif.

Penurunan keyakinan terhadap pendapatan dan ketersediaan lapangan pekerjaan juga mempengaruhi keyakinan konsumen untuk membeli barang tahan lama menjadi turun, dari data yang diambil dari Survei Konsumen Bank Indonesia pada Mei 2020 indeks pembelian barang tahan lama menjadi 73,3 dari bulan sebelumnya 83,7.

 

Ekspor dan Impor

Ditengah pandemic covid 19 ini, ekspor dan impor Indonesia terus mengalami penurunan. Berdasarkan data yang dikutip dari tirto.id, Ekspor pada Mei 2020 tercatat melanjutkan penurunannya dengan kisaran 13,40% month to month (mtom) dan 28,95% year on year (yoy). Sementara impor turun lebih dalam dengan kisaran 32,65% mtom dan 42,20% yoy.

Jika ekspor dan impor terus menurun, maka aktivitas industry pun akan terhambat dan menjadi tidak produktif. Karena sebagian besar bahan baku yang digunakan itu mengimpor dari negara lain dan bila ada kesulitan dalam mengimpor bahan baku maka kegiatan ekspor juga akan sulit untuk dilakukan. 


Segala aktivitas terhambat dan perekonomian menjadi terganggu mengakibatkan adanya peluang pertumbuhan ekonomi ini menjadi negatif dan terjadi krisis, ini menjadi dasar pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan baru. Dalam mengambil kebijakan pemerintah perlu gerak cepat, tetapi dengan tetap mengedepankan kehati-hatian serta harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat saat  ini.

 Berdasarkan live Program PEN dan Isu Fiskal yang dilakukan oleh kementrian keuangan, dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional pemerintah mengeluarkan kebijakan dengan perubahan perpres 54 tahun 2020. Dari sisi demand perlu fokus dalam bentuk perlindungan sosial, karena jika perekonomian sedang dilanda krisis maka yang pertama kali dibantu adalah kelompok yang sangat rentan. Dari sisi supply dapat dibantu dalam bentuk bunga, talangan investasi untuk modal kerja, dan pajak. Sisi supply juga perlu dibantu karena mereka tetap perlu survive agar tidak terjadi pengangguran yang terlalu berat.  Revisi terhadap perpres 54 tahun 2020 ini juga dilakukan agar jumlah hutang tidak bertambah banyak dan tidak terjadi defisit anggaran terhadap PDB.

Perumusan Kebijakan

Awal dari semua permasalahan ini berasal dari virus covid 19, oleh karena itu sektor kesehatan perlu diprioritaskan. Jika kesehatan tidak ditangani dengan baik maka akan susah untuk menyelesaikan masalah yang lainnya sehingga menemukan vaksin menjadi hal yang sangat krusial. Selagi proses untuk menemukan vaksin alangkah baiknya kita mengikuti aturan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah seperti melakukan social distancing serta menerapkan pola hidup sehat untuk memutus mata rantai virus covid 19 ini. Seperti menghindari perkumpulan dan pertemuaan massal, menjaga jarak serta melakukan work from home.

Dalam sektor perekonomiannya sendiri perlu dilakukan beberapa kebijakan seperti pemerintah merelokasi anggaran untuk membantu kelompok-kelompok yang rentan dengan bantuan berupa subsidi, keringanan bunga juga pajak agar tetap bisa survive ditengah pandemi ini. Menarik investor agar roda perekonomian tetap berjalan dan tidak menimbulkan pengangguran serta kemiskinan yang amat dalam.

Tidak ada yang tidak susah saat terjadi pandemic covid 19 ini, karena semuanya dilanda ketidakpastian dan kesusahan. Pemerintah harus menjadi katalis agar semua komponen masyarakat bisa bergerak bersama untuk bertahan dan recover. Selain itu, semua komponen masyarakat juga perlu menyadari bahwa masalah ini merupakan masalah bersama yang tidak bisa ditanggung oleh satu atau dua pihak saja.  


Sumber Referensi

Bank Sentral Republik Indonesia. 2020. Survei Konsumen 2020

https://www.bi.go.id/id/publikasi/survei

Bisnis.com. 2020. Begini Pergeseran Perilaku Konsumen Baru Selama Pandemi COVID 19

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200515/12/1240921/begini-pergeseran-perilaku-konsumen-baru-selama-pandemi-covid-19

Live Streaming Kemenkeu. 2020. Program PEN dan Isu Fiskal Lainnya

Tirto.id. 2020. Babak Belur Ekspor dan Impor di Tengah Pandemi COVID 19

https://tirto.id/babak-belur-ekspor-impor-indonesia-di-tengah-pandemi-covid-19-fHME

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAGAIMANA ANALISIS KONDISI ATAU DAMPAK PEREKONOMIAN INDONESIA DI TENGAH PANDEMI COVID-19 PADA TAHUN 2020?

Sekar Nadia Lestari 10090218162  Saat ini, di Indonesia maupun diseluruh dunia tengah dihadapi dengan adanya Coronavirus Disease-2019 atau d...