Keterangan:
A : Covid 19
B : Konsumsi Masyarakat J : Harga
C : PSBB K : Pendapatan
D : Kebijakan Fiskal L : PHK
E : Investasi
F : Ekspor,Impor
G : Lapangan Pekerjaan
H : Produksi
Sistem Persamaan
A=A0+A1(0)+A2(0)+A3(0)+A4(0)+A5(0)+A6(0)+A7(0)+A8(0)+A9(0)+A10(0)+A11(0)+
+A12(0)+A13(0)+A14(0)+A15(0)
B=B0+B1(A)+B2(0)+B3(0)+B4(0)+B5(0)+B6(F)+B7(0)+B8(0)+B9(0)+B10(J)+B11(K)+
B12(0)+B13(0)+B14(0)+B15(0)
C=C0+C1(A)+C2(0)+C3(0)+C4(0)+C5(0)+C6(0)+C7(0)+C8(0)+C9(0)+C10(0)+C11(0)+
C12(0)+C13(0)+C14(0)+C15(0)
D=D0+D1(A)+D2(0)+D3(C)+D4(0)+D5(0)+D6(0)+D7(0)+D8(0)+D9(0)+D10(0)+D11(0)+
D12(0)+D13(0)+D14(0)+D15(0)
E=E0+E1(A)+E2(0)+E3(0)+E4(D)+E5(0)+E6(0)+E7(0)+E8(0)+E9(0)+E10(0)+E11(0)+
E12(0)+E13(0)+E14(0)+E15(0)
F=F0+F1(A)+F2(0)+F3(0)+F4(0)+F5(0)+F6(0)+F7(0)+F8(0)+F9(I)+F10(0)+F11(0)+
F12(0)+F13(0)+F14(0)+F15(0)
G=G0+G1(0)+G2(0)+G3(0)+G4(0)+G5(E)+G6(0)+G7(0)+G8(H)+G9(0)+G10(0)+G11(0)+
G12(0)+G13(0)+G14(0)+G15(0)
I=I0+I1(0)+I2(0)+I3(0)+I4(D)+I5(0)+I6(0)+I7(0)+I8(0)+I9(0)+I10(0)+I11(0)+I12(0)+I13
(0)+I14(0)+I15(0)
J=J0+J1(0)+J2(0)+J3(0)+J4(0)+J5(0)+J6(0)+J7(0)+J8(0)+J9(0)+J10(0)+J11(0)+J12(0)+
J13(0)+J14(0)+J15(0)
K=K0+K1(0)+K2(0)+K3(0)+K4(0)+K5(0)+K6(0)+K7(0)+K8(0)+K9(0)+K10(0)+K11(0)+
K12(0)+K13(M)+K14(0)+K15(0)
L=L0+L1(0)+L2(0)+L3(C)+L4(0)+L5(0)+L6(0)+L7(0)+L8(0)+L9(0)+L10(0)+L11(0)+L12
(0)+L13(0)L14(0)+L15(0)
M=M0+M1(0)+M2(0)+M3(0)+M4(0)+M5(0)+M6(0)+M7(0)+M8(0)+M9(0)+M10(0)+
M11(0)+M12(L)+M13(0)+M14(0)+M15(0)
N=N0+N1(0)+N2(B)+N3(0)+N4(0)+N5(E)+N6(0)+N7(0)+N8(0)+N9(0)+N10(0)+N11(0)+
N12(0)+N13(M)+N14(0)+N15(0)
O=O0+O1(0)+O2(0)+O3(0)+O4(0)+O5(E)+O6(0)+O7(0)+O8(0)+O9())+O10(0)+O11(0)+
O12(0)+O13(0)+O14(0)+O15(0)
Endogeneous :B,C,D,E,F,G,H,I,K,L,M,N,O
Eksplanatory
:A,B,C,D,E,F,G,H,I,J,K,L,M,N,O
Eksplanatory endogeneous :A,J
Eksplanatory exogeneous
:B,C,D,E,F,G,H,I,K,L,M,N,O
Analisis
Covid 19 di setiap negara terus bertambah setiap harinya. Seperti yang kita ketahui sekarang bahwa dampak dari pandemi ini sangat berpengaruh dalam segala aspek terutama pada kondisi kesehatan dan perekonomian Negara. Dengan adanya pandemi Covid-19 tidak dapat dipungkiri bahwa perekonomian Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi yang bisa dibilang “sangat tidak stabil”. Di lain sisi, kebijakan lockdown adalah satu-satunya cara paling efektif untuk mengurangi kemunculan jumlah kasus baru. Negara-negara yang belum memberlakukan lockdown memiliki alasan sendiri atas kebijakan tersebut. Beberapa negara yang belum melaksanakan lockdown seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Indonesia. Alasan utama negara tersebut belum menerapkan kebijakan lockdown adalah faktor ekonomi. Sebagai contoh, Indonesia merupakan negara berkembang yang 50 persen penduduknya bekerja pada sektor informal. Pekerja yang berada di sektor informal rata-rata tidak memiliki jaminan hari tua, jaminan kesehatan, dan tunjangan rutin setiap bulan. Pekerja tersebut rata-rata bekerja dengan upah harian, sehingga jika tidak bekerja selama 1 hari maka pekerja tersebut tidak mendapatkan upah. Besarnya persentase penduduk tersebut, menyebabkan pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Sumber :
Survei Konsumen Bank Indonesia
Menyebarnya
virus korona Covid-19 yang makin meluas mulai mempengaruhi keyakinan
konsumen terhadap kondisi perekonomian dalam negeri. Selama belum ada sinyal
perbaikan ekonomi, optimisme konsumen disinyalir akan terus menurun.
Hasil survei konsumen yang dilakukan Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2020 sebesar 117,7. Level ini lebih
rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 121,7 poin. Penurunan ini disebabkan
oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sekaligus Indeks
Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK). IKE, tercatat turun 4,1 poin menjadi 105,5
dan IKE turun 3,9 poin menjadi 129,8.
Penurunan
IKE, disebabkan oleh penurunan seluruh komponen pembentuknya. Baik itu indeks
ketersediaan lapangan kerja, optimisme terkait penghasilan saat ini, serta
keyakinan terhadap pembelian barang tahan lama alias durable goods. Adapun
indeks ketersediaan lapangan kerja turun semakin dalam ke level pesimistis,
yaitu 90,1. Penurunan IEK, juga disebabkan oleh penurunan pada seluruh
komponen-komponen pembentuknya. Yaitu, ekspektasi penghasilan,
ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha. Penurunan ekspektasi
ketersediaan lapangan kerja mengalami penurunan paling dalam sebesar 8,5 poin
ke posisi 111,5. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance
(Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, menurunnya optimisme konsumen
merupakan efek psikologis Covid-19. Karena itulah, "Konsumen kelas
menengah atas menahan untuk berbelanja. Banyak yang takut ke pusat
perbelanjaan.”Ditambah lagi, adanya pesimisme dengan antisipasi kenaikan harga
kebutuhan pokok impor akibat Corona. Terlebih, bonus insentif akhir tahun
berkurang signifikan. Akhirnya, daya beli tertekan.
Pandemi
Covid-19 tidak hanya menyerang kesehatan manusia tetapi juga berimbas pada
perekonomian negara. Berbagai bidang usaha seperti hotel, pertokoan, pariwisata
terpaksa berhenti beroperasi dan ditutup oleh pemiliknya sehingga menimbulkan
permasalahan baru yaitu gelombang PHK yang bermunculan dimana-mana. Center of
Reform on Economics (CORE) memperkirakan jumlah pengangguran terbuka pada
kuartal II 2020 akan bertambah 4,25 juta orang. Semakin tinggi jumlah
pengangguran menandakan semakin banyak warga negara yang tidak berpenghasilan
dan hal tersebut akan berdampak pada aktivitas perekonomian. Tidak adanya
penghasilan tentu akan menurunkan tingkat konsumsi atau daya beli masyarakat.
Konsumsi rumah tangga tahun ini diperkirakan masih menjadi pendorong utama
dalam menggerakan roda perekonomian, akan tetapi laju pertumbuhannya bakal
melambat. Demikian pula daya beli masyarakat cenderung menurun mengingat hampir
semua sektor ekonomi akan terkena dampak cukup signifikan dari Covid-19. Pada saat memasuki bulan Ramadhan dan saat saat mendekati lebaran juga yang
membuat kebutuhan masyarakat meningkat sementara pendapatan menurun. Dan pada
saat covid juga terjadi kenaikan harga
seperti sembako yang menyebabkan konsumsi masyarakat di Indonesia menjadi
turun.
Indeks Pembelian Barang Tahan Lama
|
Jan |
Feb |
Mar |
Apr |
Mei |
|
113,7 |
112,3 |
109,9 |
83,7 |
73,2 |
Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia
Belanja
masyarakat dengan kelompok penghasilan menengah keatas semakin menciut di
tengah wabah Covid-19. Terbukti, indeks pembelian durable goods atau
barang tahan lama yang dirilis Bank Indonesia (BI) mengalami penurunan pada Mei
2020. Indeks tersebut turun 10,5 poin menjadi 73,2 pada Mei 2020, dari posisi
83,7 pada April 2020. Berdasarkan kelompok pengeluaran dari responden BI,
kelompok dengan pengeluaran per bulan di atas Rp5 juta rupiah mengalami
penurunan terdalam. Dari survei BI, penurunannya mencapai level 65,7 pada Mei
2020 dari posisi April 2020 sebesar 82,2. Jika dibandingkan posisi pada tahun
lalu, penurunannya lebih tajam. Tahun lalu, indeks pembelian durable
goods kelompok pengeluaran ini masih mencapai 108,2. Kelompok ini
telah mengurangi pembelian barang tahan lama, seperti elektronik, furnitur dan
perabot rumah tangga. Padahal seperti diketahui, pembelian durable
goods biasanya mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi pada masa
libur Lebaran atau bulan Ramadan karena konsumen umumnya memiliki penghasilan
lebih dari tunjangan hari raya (THR). Sejalan dengan indeks tersebut, indeks
ekspektasi penghasilan juga mengalami penurunan dari 116,1 pada bulan April
menjadi 113,8 pada Mei. Penurunan yang terhadi pada kelompok penghasilan Rp2,1
juta - Rp3 juta dan kelompok penghasilan Rp5 juta ke atas.
Wabah
COVID-19 telah memberikan dampak serius pada hampir seluruh negara di dunia,
termasuk Indonesia. Pengaruh yang ditimbulkan tidak hanya pada satu bidang,
namun hampir di seluruh aktivitas yang ada. Salah satu aspek yang menjadi perhatian
di tengah merebaknya virus Corona adalah investasi. Adanya berbagai pembatasan
di suatu negara sudah tentu berimbas pada aktivitas ekonomi. BKPM menyatakan,
dampak investasi yang ditimbulkan dari penyebaran wabah COVID-19 baru dapat
diketahui pada akhir Maret atau awal April. Dampak tersebut hampir dipastikan
ada, mengingat saat ini RRT adalah negara dengan realisasi investasi asing
terbesar kedua di Indonesia pada tahun lalu. Tahun lalu, nilai investasi RRT di
Tanah Air tidak kurang dari USD 4,7 miliar. Nominal itu setara dengan hampir
17% total nilai investasi keseluruhan asing di Indonesia. Kondisi sekarang ini
akan berimbas pada menurunnya konsumsi rumah tangga yang diperkirakan 3,2
persen hingga 1,2 persen. Lebih dari itu, investasi pun akan merosot tajam.
Sebelumnya, pemerintah cukup optimistis bahwa investasi akan tumbuh enam
persen. Namun, dengan adanya COVID-19, diprediksi investasi akan merosot ke
level satu persen atau terburuk bisa mencapai minus empat persen.
Investasi
merupakan salah satu komponen dari pendapatan nasional yang dikenal dengan
Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP).
PDB dan investasi memiliki korelasi
positif, dimana jika investasi naik, maka pendapatan nasional juga ikut naik.
Dan berlaku sebaliknya, jika investasi turun, maka pendapatan nasional juga
turun. Begitulah dampak yang terjadi antara keduanya. Dalam meningkatkan
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi Indonesia, dibutuhkan peran strategis yaitu
berupa pembentukan modal. Pembentukan stok modal inilah yang bersumber dari
kegiatan investasi atau pendanaan di sejumlah pasar keuangan. Modal yang
ditanam oleh para investor (baik perusahaan maupun individu) akan sangat
membantu perekonomian dalam menambah stok modal yang dibutuhkan. Dan setiap
investasi yang masuk ke Indonesia harus mampu menciptakan lapangan kerja, oleh
karena perlu didorong investasi pada sektor manufaktur dan padat karya.
Seluruh sektor dalam unsur ekonomi mengalami koreksi. Oleh karena itu pemerintah pun mengambil langkah dalam upaya pencegahan tingkat koreksi yang terlalu besar pada setiap elemen kehidupan. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagai upaya menjaga kestabilan ekonomi dikenal dengan istilah kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal didesain dengan mempertimbangkan tingkat pendapatan dan pengeluaran pemerintah dari berbagai kegiatan. Umumnya kebijakan tersebut mengukur tingkat pendapatan dari pajak dan pengeluaran dari kegiatan investasi yang dilakukan oleh pemerintah. Oleh karena itu, kebijakan fiskal yang diterapkan baik ekspansif maupun kontraktif berdampak langsung terhadap kegiatan investasi sekaligus mempengaruhi kegiatan konsumsi. Yang pada akhirnya bertujuan untuk menyeimbangkan pendapatan nasional. Pendapatan nasional akan mempengaruhi kegiatan konsumsi ditinjau dari tingkat permintaan konsumen terhadap money demand (Md).
|
Periode |
Ekspor |
Impor |
|
Januari |
13,63 |
14,27 |
|
Februari |
14,06 |
11,55 |
|
Maret |
14,07 |
13,35 |
|
April |
12,16 |
12,54 |
Sumber: kemendag.go.id



Tidak ada komentar:
Posting Komentar