Jumat, 19 Juni 2020

Analisis Sistem Ekonomi Indonesia Pada Saat Pandemi Covid 19 Yang Berdampak Terhadap Perekonomian

Resti Hilyatun Nasipah 10090218164



Keterangan:

A : Covid 19                                        I : Pajak

B : Konsumsi Masyarakat                   J : Harga

C : PSBB                                             K : Pendapatan 

D : Kebijakan Fiskal                           L : PHK

E : Investasi                                        M : Pengangguran

F : Ekspor,Impor                                 N : Laju Pertumbuhan Ekonomi

G : Lapangan Pekerjaan                     O : Pendapatan Nasional

H : Produksi


Sistem Persamaan

A=A0+A1(0)+A2(0)+A3(0)+A4(0)+A5(0)+A6(0)+A7(0)+A8(0)+A9(0)+A10(0)+A11(0)+

     +A12(0)+A13(0)+A14(0)+A15(0)

B=B0+B1(A)+B2(0)+B3(0)+B4(0)+B5(0)+B6(F)+B7(0)+B8(0)+B9(0)+B10(J)+B11(K)+

    B12(0)+B13(0)+B14(0)+B15(0)

C=C0+C1(A)+C2(0)+C3(0)+C4(0)+C5(0)+C6(0)+C7(0)+C8(0)+C9(0)+C10(0)+C11(0)+

    C12(0)+C13(0)+C14(0)+C15(0)

D=D0+D1(A)+D2(0)+D3(C)+D4(0)+D5(0)+D6(0)+D7(0)+D8(0)+D9(0)+D10(0)+D11(0)+

     D12(0)+D13(0)+D14(0)+D15(0)

E=E0+E1(A)+E2(0)+E3(0)+E4(D)+E5(0)+E6(0)+E7(0)+E8(0)+E9(0)+E10(0)+E11(0)+

    E12(0)+E13(0)+E14(0)+E15(0)

F=F0+F1(A)+F2(0)+F3(0)+F4(0)+F5(0)+F6(0)+F7(0)+F8(0)+F9(I)+F10(0)+F11(0)+

    F12(0)+F13(0)+F14(0)+F15(0)

G=G0+G1(0)+G2(0)+G3(0)+G4(0)+G5(E)+G6(0)+G7(0)+G8(H)+G9(0)+G10(0)+G11(0)+

     G12(0)+G13(0)+G14(0)+G15(0)

I=I0+I1(0)+I2(0)+I3(0)+I4(D)+I5(0)+I6(0)+I7(0)+I8(0)+I9(0)+I10(0)+I11(0)+I12(0)+I13

    (0)+I14(0)+I15(0)

J=J0+J1(0)+J2(0)+J3(0)+J4(0)+J5(0)+J6(0)+J7(0)+J8(0)+J9(0)+J10(0)+J11(0)+J12(0)+

    J13(0)+J14(0)+J15(0)

K=K0+K1(0)+K2(0)+K3(0)+K4(0)+K5(0)+K6(0)+K7(0)+K8(0)+K9(0)+K10(0)+K11(0)+

     K12(0)+K13(M)+K14(0)+K15(0)

L=L0+L1(0)+L2(0)+L3(C)+L4(0)+L5(0)+L6(0)+L7(0)+L8(0)+L9(0)+L10(0)+L11(0)+L12

    (0)+L13(0)L14(0)+L15(0)

M=M0+M1(0)+M2(0)+M3(0)+M4(0)+M5(0)+M6(0)+M7(0)+M8(0)+M9(0)+M10(0)+

     M11(0)+M12(L)+M13(0)+M14(0)+M15(0)

N=N0+N1(0)+N2(B)+N3(0)+N4(0)+N5(E)+N6(0)+N7(0)+N8(0)+N9(0)+N10(0)+N11(0)+

     N12(0)+N13(M)+N14(0)+N15(0)

O=O0+O1(0)+O2(0)+O3(0)+O4(0)+O5(E)+O6(0)+O7(0)+O8(0)+O9())+O10(0)+O11(0)+

    O12(0)+O13(0)+O14(0)+O15(0)

 

Endogeneous :B,C,D,E,F,G,H,I,K,L,M,N,O

Eksplanatory  :A,B,C,D,E,F,G,H,I,J,K,L,M,N,O

Eksplanatory endogeneous :A,J

Eksplanatory exogeneous   :B,C,D,E,F,G,H,I,K,L,M,N,O

 

Analisis

Covid 19 di setiap negara terus bertambah setiap harinya. Seperti yang kita ketahui sekarang bahwa dampak dari pandemi ini sangat berpengaruh dalam segala aspek terutama pada kondisi kesehatan dan perekonomian Negara. Dengan adanya pandemi Covid-19 tidak dapat dipungkiri bahwa perekonomian Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi yang bisa dibilang “sangat tidak stabil”. Di lain sisi, kebijakan lockdown adalah satu-satunya cara paling efektif untuk mengurangi kemunculan jumlah kasus baru. Negara-negara yang belum memberlakukan lockdown memiliki alasan sendiri atas kebijakan tersebut. Beberapa negara yang belum melaksanakan lockdown seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Indonesia. Alasan utama negara tersebut belum menerapkan kebijakan lockdown adalah faktor ekonomi. Sebagai contoh, Indonesia merupakan negara berkembang yang 50 persen penduduknya bekerja pada sektor informal. Pekerja yang berada di sektor informal rata-rata tidak memiliki jaminan hari tua, jaminan kesehatan, dan tunjangan rutin setiap bulan. Pekerja tersebut rata-rata bekerja dengan upah harian, sehingga jika tidak bekerja selama 1 hari maka pekerja tersebut tidak mendapatkan upah. Besarnya persentase penduduk tersebut, menyebabkan pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

 

 

 

 

Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia

Menyebarnya virus korona Covid-19 yang makin meluas mulai mempengaruhi keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian dalam negeri. Selama belum ada sinyal perbaikan ekonomi, optimisme konsumen disinyalir akan terus menurun.  Hasil survei konsumen yang dilakukan Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2020 sebesar 117,7. Level ini lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 121,7 poin. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sekaligus Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK). IKE, tercatat turun 4,1 poin menjadi 105,5 dan IKE turun 3,9 poin menjadi 129,8. 

Penurunan IKE, disebabkan oleh penurunan seluruh komponen pembentuknya. Baik itu indeks ketersediaan lapangan kerja, optimisme terkait penghasilan saat ini, serta keyakinan terhadap pembelian barang tahan lama alias durable goods. Adapun indeks ketersediaan lapangan kerja turun semakin dalam ke level pesimistis, yaitu 90,1. Penurunan IEK, juga disebabkan oleh penurunan pada seluruh komponen-komponen  pembentuknya. Yaitu, ekspektasi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha. Penurunan ekspektasi ketersediaan lapangan kerja mengalami penurunan paling dalam sebesar 8,5 poin ke posisi 111,5. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, menurunnya optimisme konsumen merupakan efek psikologis Covid-19.  Karena itulah, "Konsumen kelas menengah atas menahan untuk berbelanja. Banyak yang takut ke pusat perbelanjaan.”Ditambah lagi, adanya pesimisme dengan antisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok impor akibat Corona. Terlebih, bonus insentif akhir tahun berkurang signifikan. Akhirnya, daya beli tertekan.

Pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang kesehatan manusia tetapi juga berimbas pada perekonomian negara. Berbagai bidang usaha seperti hotel, pertokoan, pariwisata terpaksa berhenti beroperasi dan ditutup oleh pemiliknya sehingga menimbulkan permasalahan baru yaitu gelombang PHK yang bermunculan dimana-mana. Center of Reform on Economics (CORE) memperkirakan jumlah pengangguran terbuka pada kuartal II 2020 akan bertambah 4,25 juta orang. Semakin tinggi jumlah pengangguran menandakan semakin banyak warga negara yang tidak berpenghasilan dan hal tersebut akan berdampak pada aktivitas perekonomian. Tidak adanya penghasilan tentu akan menurunkan tingkat konsumsi atau daya beli masyarakat. Konsumsi rumah tangga tahun ini diperkirakan masih menjadi pendorong utama dalam menggerakan roda perekonomian, akan tetapi laju pertumbuhannya bakal melambat. Demikian pula daya beli masyarakat cenderung menurun mengingat hampir semua sektor ekonomi akan terkena dampak cukup signifikan dari Covid-19.  Pada saat memasuki bulan Ramadhan  dan saat saat mendekati lebaran juga yang membuat kebutuhan masyarakat meningkat sementara pendapatan menurun. Dan pada saat covid juga terjadi kenaikan harga seperti sembako yang menyebabkan konsumsi masyarakat di Indonesia menjadi turun.

Indeks Pembelian Barang Tahan Lama

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

113,7

112,3

109,9

83,7

73,2

Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia

Belanja masyarakat dengan kelompok penghasilan menengah keatas semakin menciut di tengah wabah Covid-19. Terbukti, indeks pembelian durable goods atau barang tahan lama yang dirilis Bank Indonesia (BI) mengalami penurunan pada Mei 2020. Indeks tersebut turun 10,5 poin menjadi 73,2 pada Mei 2020, dari posisi 83,7 pada April 2020.  Berdasarkan kelompok pengeluaran dari responden BI, kelompok dengan pengeluaran per bulan di atas Rp5 juta rupiah mengalami penurunan terdalam. Dari survei BI, penurunannya mencapai level 65,7 pada Mei 2020 dari posisi April 2020 sebesar 82,2. Jika dibandingkan posisi pada tahun lalu, penurunannya lebih tajam. Tahun lalu, indeks pembelian durable goods kelompok pengeluaran ini masih mencapai 108,2. Kelompok ini telah mengurangi pembelian barang tahan lama, seperti elektronik, furnitur dan perabot rumah tangga. Padahal seperti diketahui, pembelian durable goods biasanya mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi pada masa libur Lebaran atau bulan Ramadan karena konsumen umumnya memiliki penghasilan lebih dari tunjangan hari raya (THR). Sejalan dengan indeks tersebut, indeks ekspektasi penghasilan juga mengalami penurunan dari 116,1 pada bulan April menjadi 113,8 pada Mei. Penurunan yang terhadi pada kelompok penghasilan Rp2,1 juta - Rp3 juta dan kelompok penghasilan Rp5 juta ke atas.

Wabah COVID-19 telah memberikan dampak serius pada hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Pengaruh yang ditimbulkan tidak hanya pada satu bidang, namun hampir di seluruh aktivitas yang ada. Salah satu aspek yang menjadi perhatian di tengah merebaknya virus Corona adalah investasi. Adanya berbagai pembatasan di suatu negara sudah tentu berimbas pada aktivitas ekonomi. BKPM menyatakan, dampak investasi yang ditimbulkan dari penyebaran wabah COVID-19 baru dapat diketahui pada akhir Maret atau awal April. Dampak tersebut hampir dipastikan ada, mengingat saat ini RRT adalah negara dengan realisasi investasi asing terbesar kedua di Indonesia pada tahun lalu. Tahun lalu, nilai investasi RRT di Tanah Air tidak kurang dari USD 4,7 miliar. Nominal itu setara dengan hampir 17% total nilai investasi keseluruhan asing di Indonesia. Kondisi sekarang ini akan berimbas pada menurunnya konsumsi rumah tangga yang diperkirakan 3,2 persen hingga 1,2 persen. Lebih dari itu, investasi pun akan merosot tajam. Sebelumnya, pemerintah cukup optimistis bahwa investasi akan tumbuh enam persen. Namun, dengan adanya COVID-19, diprediksi investasi akan merosot ke level satu persen atau terburuk bisa mencapai minus empat persen.

Investasi merupakan salah satu komponen dari pendapatan nasional yang dikenal dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP).  PDB dan investasi memiliki korelasi positif, dimana jika investasi naik, maka pendapatan nasional juga ikut naik. Dan berlaku sebaliknya, jika investasi turun, maka pendapatan nasional juga turun. Begitulah dampak yang terjadi antara keduanya. Dalam meningkatkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi Indonesia, dibutuhkan peran strategis yaitu berupa pembentukan modal. Pembentukan stok modal inilah yang bersumber dari kegiatan investasi atau pendanaan di sejumlah pasar keuangan. Modal yang ditanam oleh para investor (baik perusahaan maupun individu) akan sangat membantu perekonomian dalam menambah stok modal yang dibutuhkan. Dan setiap investasi yang masuk ke Indonesia harus mampu menciptakan lapangan kerja, oleh karena perlu didorong investasi pada sektor manufaktur dan padat karya.

Seluruh sektor dalam unsur ekonomi mengalami koreksi. Oleh karena itu pemerintah pun mengambil langkah dalam upaya pencegahan tingkat koreksi yang terlalu besar pada setiap elemen kehidupan. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagai upaya menjaga kestabilan ekonomi dikenal dengan istilah kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal didesain dengan mempertimbangkan tingkat pendapatan dan pengeluaran pemerintah dari berbagai kegiatan. Umumnya kebijakan tersebut mengukur tingkat pendapatan dari pajak dan pengeluaran dari kegiatan investasi yang dilakukan oleh pemerintah. Oleh karena itu, kebijakan fiskal yang diterapkan baik ekspansif maupun kontraktif berdampak langsung terhadap kegiatan investasi sekaligus mempengaruhi kegiatan konsumsi. Yang pada akhirnya bertujuan untuk menyeimbangkan pendapatan nasional. Pendapatan nasional akan mempengaruhi kegiatan konsumsi ditinjau dari tingkat permintaan konsumen terhadap money demand (Md).

 Tingkat Ekspor-Impor RI Periode Januari-April 2020 (Juta US$)

Periode

Ekspor

Impor

Januari

13,63

14,27

Februari

14,06

11,55

Maret

14,07

13,35

April

12,16

12,54

Sumber: kemendag.go.id

Perkembangan ekspor-impor Indonesia terus mengalami pemburukan di tengah pandemi Corona atau COVID-19. Dapat dilihat Ekspor pada Januari 2020 tercatat 13,63 miliar dolar AS. Sempat naik pada Februari-Maret 2020 menjadi 14 miliar dolar AS, lalu turun lagi di April menjadi 12,16 miliar dolar AS dan terus memburuk pada Mei 2020 menjadi 10,53 miliar dolar AS.
Faktor pertama,  Kita dapat menilai ada potensi industri di luar negeri masih memiliki stok usai aktivitas berhenti. Faktor kedua, aktivitas ekonomi di negara tujuan masih rendah baik produksi maupun konsumsi. Porsi ekspor dalam PDB barangkali cukup kecil dibanding konsumsi-investasi. Namun efeknya akan terasa pada seretnya penerimaan devisa Indonesia yang bakal menyulitkan pengendalian nilai tukar kala diguncang ketidakpastian ekonomi global. Dan jika impor terus turun, industri dalam negeri bakal kesulitan memenuhi permintaan ekspor dan domestik. Sebab 75% impor bahan baku Indonesia didominasi oleh bahan baku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAGAIMANA ANALISIS KONDISI ATAU DAMPAK PEREKONOMIAN INDONESIA DI TENGAH PANDEMI COVID-19 PADA TAHUN 2020?

Sekar Nadia Lestari 10090218162  Saat ini, di Indonesia maupun diseluruh dunia tengah dihadapi dengan adanya Coronavirus Disease-2019 atau d...